Plato lahir dari keluarga bangsawan Athena dengan nama lahirnya yaitu Aristokles. Keluarga Plato berperan aktif dalam kehidupan politik di kotannya karena Ayahnya adalah keturunan Raja terakhir di Athena. Namun biar begitu, Plato tidak berambisi untuk terjun ke dunia politik, ia mencoba mencari hal-hal lain yang ia sukai. Ia pernah menjadi seorang pegulat handal dimana ia mendapat julukan "Plato". Ia bahkan pernah menjadi penyair, namun gagal di beberapa sayembara. Sampai akhirnya suatu saat ia memutuskan untuk mempelajari filsafat, berguru kepada Sokrates, dan menemukan kelebihannya di bidang ini.
Plato terkenal dengan ajarannya tentang "Idea". Ia berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada dan dapat dilihat oleh manusia sebenarnya bukan merupakan kebenaran sejati. Kebenaran sejati berada di "atas" sana, dimana tidak dapat di raih oleh manusia. Ibaratnya, sebuah Apel yang bisa kita lihat dan rasakan melalui indera bukanlah realitas apel yang sebenarnya, itu hanyalah pendapat manusia dari realitas sejati tentang apel tersebut.
Plato memiliki penjelasan yang lebih mudah tentang Idea dalam alegorinya tentang gua.
Ada sekelompok tawanan di dalam gua, dengan tangan kaki di borgol dan di hadapkan ke arah tembok membelakangi mulut gua. Para tawanan itu tak dapat melihat dunia di luar sana, yang mereka lihat hanyalah bayangan yang terjatuh di tembok gua yang terbentuk dari kegiatan di luar gua tersebut.
Manusia diibaratkan sebagai para tawanan yang diborgol, dan tidak dapat melihat realitas yang sebenarnya di luar sana. Sampai pada akhirnya manusia dapat melepas borgol tersebut dan dapat melihat realitas yang sebenarnya.
Jadi dimanakah "relitas sebenarnya" menurut Plato? Menurut Plato, realitas inderawi merupakan cerminan dari realitas yang sebenarnya. Realitas sebenarnya bersifat rohani dan hanya dapat ditangkap oleh nalar, bukan indera. Realitas yang sebenarnya inilah yang Plato sebut sebagai "Idea".
Terdapat 3 kata kunci tentang pemikiran Plato
- Kebenaran yang sejati
- kebenaran yang kekal
- kebenaran didapatkan melaluli kepasitas akal/nalar
Plato juga keberatan dengan kenyataan bahwa seni melibatkan emosi, sebab emosi yang dihasilkan lewat karya seni dapat membuat manusia berpikir yang tidak-tidak, yang jauh dari dunia idea.
B. Aristoteles (384 - 322 SM)
Aristoteles lahir di Yunani utara, ayahnya merupakan seorang fisikawan yang bekerja pada raja makedonia Amyntas II. Aristoteles disekolahkan di Akademia Plato selama 18 tahun hingga wafatnya Plato pada 374 SM. Karena kecewa dengan ajaran di Akademia Plato, ia memutuskan untuk pergi dari Athena dan menghabiskan beberapa tahun di Assos. Di sini ia sempat menciptakan karya tulisan bersama senior-seniornya dari Akademia. Aristoteles juga sempat menghabiskan beberapa tahun di Makedonia untuk mengajar pangeran iskandar muda, namun setelah Iskandar Muda naik tahta, Aristoteles kembali lagi ke Athena dan mendirikan sekolahnya sendiri Lykaion yang sebenarnya merupakan pusat penelitian ilmiah.
Di Athena ia harus melarikan diri karena dituduh menyebarkan Atheisme, dan akhirnya ia kabur ke Kota Kalas, dan terus menetap disana.
Walaupun menjadi murid Plato, Aristoteles sangat bertentangan dengan prinsip "idea" oleh Plato. Menurutnya idea-idea tersebut sebenarnya merupakan bentuk abstrak dari realitas inderawi itu sendiri. Aristoteles menggunakan pendekatan empiris, dimana indera menjadi sumber utamanya.
Aristoteles menentang pemahaman Plato dengan teorinya hyle-morfisme. Menurut teori ini, setiap benda yang ada di bumi merupakan perwujudan dari materi(hyle) dan bentuk(morphe). tidak ada sesuatu di dunia ini yang ada dan muncul begitu saja oleh karena tiruan dari sesuatu yang disebut idea oleh Plato. Aristoteles melihat adanya suatu proses yang dialami oleh setiap benda sehingga memiliki wujud.
Terdapat 4 penyebab/causa sesuatu dapat tercipta.
- Penyebab material
- Penyebab formal
- Penyebab efisien
- Penyebab final
- Telur, mentega, terigu, gula >>> causa material
- Resep kue >>> causa formal
- Alat masak, kegiatan memasak, >>> causa efisien
- Tujuan kue di masak >>> causa final
Katharsis atau pemurnian adalah dimana seorang mencapai titik puncak emosinya bergejolak, lalu manusia tersebut merasa lega/murni dan tidak merasakan beban emosi lagi.
seperti saat menonton sebuah film yang mengharukan, seseorang dapat terpancing emosinya lalu menangis, dan akhirnya merasa lega kembali setelah semuanya selesai.
C. Plotinus (205 - 270 M)
Plotinus merupakan seorang filsuf di puncak zaman Yunani kuno. Ajaran Plotinus merangkum semua ajaran-ajaran filsafat yang saat itu mempunyai kesempatan utk masuk ke Yunani berkat berkembangnya ajaran Hellenisme.
Ajaran Plato ini disebut dengan ajaran Neo-Platonisme sebab berasal dari dasar pemikiran Plato. Neo-Platonisme berkembang di Alexandria dimana banyak budaya-budaya berlainan bertemu di situ. Ajaran Neo-Platonisme ini sebenarnya didirikan oleh Ammonius de Saccas, namun ia memiliki murid yang paling terkenal yaitu Plotinus yang akhirnya memajukan ajaran ini. Inti ajaran Plotinus terdapat dalam bukunya yang berjudul "Enneads" yang diterbitkan oleh muridnya porifirius.
Doktrin metafisika Plotinus ini berawal dari teori Trinitas yaitu "Yang Esa (the One)", "Akal Budi (nous)", dan "Jiwa"(Psyche). Teori yang terkenal dari Plotinus adalah teori "pengaliran"(emanasi). Dalam teori ini segala realitas sebenarnya mengalami gerakan turun (emanasi) dan naik (remanasi).
Prosesnya adalah, semua bermula dari "yang Esa" mengalirlah keluar "akal budi". Lalu dari "akal budi" mengalirlah "jiwa"dimana jiwa ini sendiri terdiri dari jiwa Dunia, dan jiwa Individual. Jiwa dunia menjaga hubungan dengan kosmos, dan jiwa individual bersatu dengan materi. Dengan persatuan ini, terbentuklah jagad raya.
Materi merupakan emanasi terjauh oleh "yang Esa" maka itu di tahap ini manusia berusaha untuk dapat kembali naik lagi ke "yang Esa" yang akhirnya disebut denga remanisasi.
Remanisasi ini dapat dilakukan dengan berbagai tahap yang sebenarnya mirip dengan Purifikasi. yaitu:
- Pemurnian diri
- kontemplasi
- penyatuan/peleburan
No comments:
Post a Comment